• Kerja Otot dan Kerja Otak

    Date: 2009.02.27 | Category: Story | Tags:

    Pada saat ini saya bekerja di bidang usaha konstruksi jalan kereta api, yang proyek utama kami mengganti bantalan kayu menjadi bantalan beton, lingkungan yang cukup berbeda dengan latar belakang pendidikan saya dan tempat kerja saya yang lama yang mayoritas bekerja dengan Otak, Masa-masa tidak ada proyek seperti yang kami alami ini menjadi masa yang cukup berat bagi pekerja kasar atau yang bekerja menggunakan otot, karena pendapatan mereka menurun hampir 1/2 bahkan lebih! karena sudah tidak ada tambahan-tambahan dari lapangan, tapi yang menjadi perhatian saya adalah mereka meminta kenaikan gaji, di kantor mengeluh terus… bikin kepala saya tambah pusing… :(

    Saya sempat berbicara cukup panjang dengan perwakilan bos mengenai masalah ini, para pekerja otot merasa bahwa merekalah yang membuat proyek ini berjalan dengan baik bahwa berkat merekalah bos dapat uang yang banyak dan seharusnya bos memberi imbalan mereka lebih besar, tapi perwakilan bos ini dengan bagus memberi jawaban kepada saya dengan memberikan contoh di perusahaan lain.

    Dalam perusahaan X terdapat banyak sekali insiyur, para insiyur ini membuat suatu desain mengenai sebuah rangkaian setelah jadi kemudian gambar tersebut dibawa ke bagian produksi untuk diproduksi setelah komponen-komponennya di produksi kemudian dibawa ke bagian perakitan untuk dirakit tiap-tiap komponennya… nah dia bertanya sama saya, manakah menurutmu yang pantas dihargai lebih tinggi? ya saya jawab bagian perencanaan, Dia berusaha menggambarkan bahwa memang sudah sewajarnya kalau kerja otak itu dihargai lebih daripada kerja otot.

    Memang betul bahwa di dalam perusahaan kami semua itu berhubungan… tanpa pekerja-pekerja kasar tidak mungkin kami bisa menyelesaikan proyek dengan baik tapi tanpa arahan dan gambar yang baik dari perencana tidak mungkin juga proyek itu berjalan dengan baik. tapi terkadang kasihan jika melihat para pekerja kasar tersebut, ada banyak memang mereka yang tidak terlalu pintar tapi ada beberapa saya melihat mereka cukup cerdas tapi karena latar belakang pendidikan yang kurang sehingga mereka harus bekerja menggunakan otot,  saya terkadang juga merasa prihatin dan merasa tidak enak dengan beberapa teman di kantor dikarenakan usia saya, Saat ini saya masih berusia 24 tahun sedangkan saya harus memimpin atau mengatur orang-orang yang jauh lebih tua daripada saya… tapi hanya dikarenakan latar belakang pendidikan bisa terjadi kesenjangan semacam ini. Untungnya semua bisa berjalan dengan baik di kantor, saya berusaha menghormati senioritas mereka dan mereka balas menghormati saya.